orthopedic pain management

Duka Mendalam Untuk Opa Le

Opa Le

Salah satu putera terbaik Maluku DR. M.Saleh Latuconsina hari ini, Jumat 15 Juli 2016 dipanggil oleh Yang Maha Kuasa. Semasa hidupnya, mantan gubernur Maluku jebolan arsitek Universitas Prancis itu termasuk figur Maluku yang sangat bersahaja. Semasa konflik menerpa Maluku 1999 beliau termasuk sosok yang sangat tenang menghadapi gejolak ketika itu. Dengan sikapnya itu beliau sangat diterima oleh banyak kalangan.

Saleh Latuconsina telah banyak mendharma baktikan dirinya untuk pembangunan di Maluku baik semenjak menjadi pegawai biasa di Dinas PU Maluku, Ketua Bappeda, hingga gubernur. Salah satu gagasan yang cukup terkenal semasa beliau menjabat Ketua Bappeda Maluku adalah “Gugus Pulau”. Konsepnya semasa menjabat Ketua Bappeda itu kemudian diaplikasikan sebagai visi-misi ketika almarhum terpilih menjadi gubernur.

Menurut almarhum, salah satu cara untuk menyatukan Maluku tak ada cara lain kita harus membangun infrastuktur jembatan melalui kapal laut. Setiap gugus pulau harus dihubungkan secara interkoneksi oleh kapal-kapal laut termasuk kapal fery sehingga setiap pulau di Maluku bisa disatukan dengan membangun sentra-sentra perekonomian sehingga terjadi mobilitas baik arus barang maupun manusia.

Sebagai wilayah kepulauan Maluku kita harus bangun dengan memakai pola konsep Gugus Pulau. Setiap pulau harus punya sentra-sentra ekonomi, pendidikan, pusat pelayanan kesehatan, dan sarana perhubungan yang memadai.

“Orang di Aru atau Kisar tak perlu lagi menjual hasil bumi ke luar daerah, tapi mereka bisa menjual ke Tual atau Saumlaki. Begitu seterusnya dari Saumlaki bisa menjual hasil buminya ke Ambon tak perlu lagi ke Surabaya. Orang di Geser cukup membawa hasil bumi ke Bula atau ke Masohi di Pulau Seram tak perlu ke Makassar. Begitu pun orang di Namrole, Namlea, Morotai, Halmahera, Bacan, dan Sanana,” ujarnya suatu ketika.

Sayang, gagasan besar Saleh Latuconsina itu belum sempat terwujud karena keburu tersapuh oleh konflik bernuansa SARA. Di tengah suasana yang penuh kekacauan itu, Saleh Latuconsina tetap tenang mendatangi warganya yang menjadi korban kerusuhan. Begitupun tanpa mengenal lelah dia mendatangi semua tokoh agama, tokoh masyarakat, akademisi, dan tokoh pemuda mencoba menenangkan hati warganya dalam suasana yang serba penuh ketidakpastian itu.

Di saat banyak orang termasuk pejabat dan orang dekatnya memilih mengungsi ke luar Maluku almarhum dan istri tercinta Ny.Aisyah Latuconsina memilih bertahan di Rumah Dinas Gubernur Maluku di Kawasan Mangga Dua.

Di tengah kerisauan itu, di luar sana desingan peluru menghujam rumah penduduk, tanpa kecuali rumah dinasnya juga ditembaki. Di rumah dinasnya yang telah dipenuhi oleh para pengungsi yang berbeda keyakinan itu meminta perlindungan dan Saleh Latuconsina bersama istrinya dengan tangan terbuka menerima dan memilih tinggal bersama almarhum.

Sang istri sempat merasa tegang dan meminta almarhum untuk memilih menyingkir dari rumah dinas di Mangga Dua itu akibat desingan peluru yang terus diarahkan ke rumah dinasnya tersebut.

“Ica (sang istri almarhum Aisyah Latuconsina), peluru itu punya mata. Kalau malam ini Tuhan menghendaki kita berdua harus mati di rumah jabatan ini ya itu sudah kehendakNya. Tapi sebagai bentuk tanggungjawab kita tidak boleh keluar dari rumah dinas. Bagaimanapun saya adalah gubernur saya harus bertanggung jawab,” ujar almarhum suatu ketika.

Ya, itulah Pak Saleh Latuconsina. Penampilannya yang kalem namun dalam dirinya ternyata memiliki kekuatan batin yang cukup kuat. Sebagai seorang sipil, Saleh Latuconsina tetap pada keyakinan tentang tugas dan tanggungjawabnya sebagai seorang gubernur.

Di tengah kondisi segenting apapun dia tak pernah mengeluh dan terus berkoordinasi dengan semua pihak untuk mencari solusi penyelesaian konflik. Bahkan sampai detik-detik terakhir Kantor Gubernur Maluku dibakar pun dia tetap memilih berkantor di ruang kerjanya.

“Kita sebagai pemimpin di Maluku tidak mau melihat daerah ini hancur. Jangan sampai kita menjadi korban permainan para elite,” ujarnya.

Disisi Kepedulian Almarhum terhadap Peningkatan Kualitas Pendidikan di Maluku adalah Bersama-sama Mantan Gubernur Maluku periode 1975-1985 Alm. Mayjen (Purn) Hasan Slamet, Drs. M. Akib Latuconsina, Drs. Djamal Tuasikal, Ir. Djafar Hassan, Drs. Abdul Rachman Umaternate, Drs. Hasyim Marasabessy, BcHK., Prof. Drs. Hamadi Hussein, dr. A. Rachman Polanunu dan Alwi Alhadar Mendirikan Yayayasan Darussalam dan Universitas Darussalam Ambon.

Banyak generasi mengenang sosok Almarhum sebagai sosok bersahaja yang menjadi inspirasi banyak orang Semoga Selalu jadi panutan generasi Baru, generasi toleran beragama, generasi pembangun Maluku serta generasi peduli sesama.

Selamat jalan Opa Le, semoga amal bhaktimu untuk Maluku dan Universitas Darussalam Ambon mendapat tempat yang layak di sisiNya.(*)

lecturer & IT Development

Related posts

*

*

Top