Seputar PENELITI INDONESIA

1 )  Menggagas Peningkatan Kesejahteraan Peneliti http://www.mediaindonesia.com/read/2009/09/09/95707/68/11/Menggagas-Peningkatan-Kesejahteraan-Peneliti Selasa, 15 September 2009 00:01 WIB Tahun 2009 boleh jadi merupakan tahun yang sangat membahagiakan bagi guru dan dosen karena pada tahun ini pemerintah menaikkan tunjangan guru dan dosen. Kondisi ini bertolak belakang dengan yang dialami oleh peneliti dan perekayasa. Tahun 2009 bagi peneliti dan perekayasa tidak ada bedanya dengan tahun-tahun sebelumnya. Janji Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk meningkatkan kesejahteraan peneliti di Indonesia ketika menghadiri panen raya di LIPI Sukamandi pada awal 2008 atau yang lebih dikenal dengan ‘Janji Sukamandi’ belakangan ini mencuat lagi ke permukaan. Hal ini dipicu dengan meningkatnya tunjangan guru dan dosen pada tahun 2009, sedangkan tunjangan peneliti dan perekayasa masih tetap. ...dst 2 ) Jawaban dari Kementerian Negara Riset dan Teknologi (oleh Benyamin Lakitan, Sekretaris Menteri Negara Riset dan Teknologi) tgl 17 Desember 2008: http://www.ristek.go.id/makalah-menteri/index.php/2008/12/17/betulkah-rencana-kenaikan-tunjangan-peneliti-tidak-jadi-karena-krisis-ekonomi/ Upaya untuk meningkatkan kesejahteraan peneliti pada awalnya memang diarahkan untuk meningkatkan Tunjangan fungsional Peneliti dengan memanfaatkan momentum keputusan Mahkamah Konstitusi yang mewajibkan 20% APBN mulai tahun 2009 dialokasikan untuk sektor pendidikan. Argumen yang digunakan adalah bahwa penelitian merupakan bagian integral dari pendidikan, sebagaimana yang tersurat pada Tridharma Perguruan Tinggi. Akan tetapi ada kendala administrasi keuangan yang mengatur bahwa tunjangan fungsional merupakan komponen gaji pegawai yang harus dianggarkan pada kementerian/lembaga tempat yang bersangkutan bertugas. Dengan demikian peneliti yang bukan pegawai Depdiknas tidak dapat menggunakan anggaran pendidikan (yang 20% APBN tersebut) yang ditempatkan di Depdiknas. ...dst 3 ) Negara dan Nasib Peneliti http://cetak.kompas.com/read/2010/09/15/0442498/negara.dan.nasib.peneliti Rabu, 15 September 2010 | 04:42 WIB Asvi Warman Adam Ketika hubungan antara Indonesia dan Malaysia agak memanas belakangan ini, terbetik pula berita bahwa negara jiran itu mencari para peneliti Indonesia dalam bidang ilmu dasar. Gaji yang ditawarkan sekitar 40 juta rupiah per bulan, sepuluh kali lipat gaji di Indonesia. Saat ini, seorang peneliti senior bergelar profesor riset golongan IV E dan telah berdinas selama lebih dari 25 tahun pada lembaga penelitian nasional di Indonesia hanya memperoleh penghasilan 4 jutaan rupiah sebulan. Itu sudah termasuk tunjangan fungsional profesor riset Rp 1,4 juta per bulan. Sementara itu, seorang profesor di perguruan tinggi memperoleh gaji dan tunjangan di atas Rp 10 juta. Kementerian Keuangan yang mencetak uang dan menghasilkan uang (antara lain dari pajak) memperoleh gaji sekian kali lipat daripada kementerian lain. Demikian pula pegawai negeri di sekeliling Presiden, yakni lingkungan Sekretariat Negara memiliki tunjangan sampai Rp 36,77 juta sejak 1 Januari 2009. Walaupun atas nama reformasi birokrasi, ketidakadilan dan ketimpangan di kalangan pegawai negeri sipil itu bisa menjadi bom waktu di kemudian hari. ...dst 4 ) From: Taufiq AG/Topgan http://www.kopertis12.or.id/2010/09/15/negara-dan-nasib-peneliti/ Sent: Wednesday, September 15, 2010 7:31:09 Menurut saya harus dibedakan antara gaji dan pendapatan (Salary dan Income). Ini lah beda Indonesia dan Malaysia. Prof dari Universitas ternama di Malaysia pernah tanya ke saya, berapa gaji Prof di Indonesia. Saya jawab, untuk case yang umum jangan tanya berapa Salary .. tanya berapa Income Prof di Indonesia. Salary (Gaji) dan Income beda loh. Memang tidak mungkin mengukur dan membandingkan secara exact dan akurat 100%. Namun adalah mudah untuk mengukur Salary dan Income Prof, Peneliti dan Dokter di Malaysia, karena Salary dan Income nyaris sama, dan All are recorded. Sedangkan Indonesia adalah sebaliknya, Salary bisa jadi recorded, tapi Income nyaris tidak ketahuan. Mengukur Salary dan Income jangan melihat secara sepotong-sepotong atau hanya dari satu sisi saja. Beberapa yang saya tahu: ...dst 5 ) henny ditulis pada 16 September, 2010, 13:23 http://www.kopertis12.or.id/2010/09/15/negara-dan-nasib-peneliti/ Benar apa yang dikatakan pak Asvi… Bedakan antara PNS fungsional peneliti dan para dosen.. klo para dosen yaa apa yang dikatakan pak Taufik itu, itu dibawah Kementrian Diknas. PNS Fungsional peneliti banyak bekerja di LIPI, Batan, Lapan,.. Kondisinya seperti yang dikatakan pak Asvi. >>> 6 ) Peneliti yunior ditulis pada 17 September, 2010, 15:38 http://www.kopertis12.or.id/2010/09/15/negara-dan-nasib-peneliti/ Nah, terbuktikan SBY gak peduli sama nasib peneliti, beda ketika KOLONEL angkatan laut membuat opini di koran kompas, beliau langsung menganggapinya melalui konfrensi pers Tanika S dan Topgan mungkin anda bukan seorang peneliti, mungkin anda seorang pengusaha muda yang sukses dan kaya raya, sehingga tidak peka lagi dengan kondisi orang lain. Bukan terjebak dalam pikiran komersil. Keinginan peningkatan tunjangan peneliti merupakan penghargaan kepada profesi peneliti seperti halnya di Malaysia bahkan di negara maju. Kita gak banyak-banyak koq minta dinaikkannya…karena sudah gak sesuai lagi untuk memenuhi kebutuhan basic need saja susah. Pendapatan kami lebih rendah dibandingkan guru yang berpangkat sama dengan kami. Memangnya Tanika dan mas Tgan tidak perlu dihargai? atau pekerjaan anda selama 1 bulan hanya dibayar dengan setumpuk pujian??..atau dibayar Rp. 1 juta dengan tambahan kata-kata terimakasih????. Saya kira tidak demikian konteks pembicaraan Pak Aswi. Kalaupun benar anda seorang pegawai swasta…anda akan juga akan berteriak2x dan protes bila hanya di bayar Rp 1 juta/bulan ditambah tunjangan sepeti kata-kata TERIMA KASIH ATAS KERJA ANDA…mohon maaf bukan bermaksud kasar tetapi kami ingin sampaikan bahwa kami bekerja profesional tapi kami juga butuh penghargaan yang layak dari negara. ...dst 7 ) Peneliti Indonesia di Malaysia Dibayar 10 Kali Lipat! http://kampus.okezone.com/read/2010/09/02/373/369416/peneliti-indonesia-di-malaysia-dibayar-10-kali-lipat Kamis, 2 September 2010 - 14:43 wib JAKARTA - Salah satu alasan banyaknya peneliti Indonesia memilih bekerja di luar negeri, termasuk Malaysia, adalah kesejahteraan yang lebih baik. Demikian dituturkan salah seorang dosen dan peneliti Indonesia yang saat ini mengajar di Universiti Pendidikan Sultan Idris (UPSI) Malaysia, Prof. Nur Tjahjadi. "Gaji peneliti di Malaysia bisa sepuluh kali lipat dibanding gaji peneliti di Indonesia," ujar Nur ketika dihubungi okezone via sambungan internasional, Kamis (2/9/2010). Nur menceritakan, alasan dia memilih bekerja di UPSI di antaranya karena merasa kesulitan menjadi guru besar di Indonesia. "Ada diskriminasi di tempat saya mengajar dulu. Penduduk asli cenderung lebih mudah mencapai gelar guru besar dibandingkan para pendatang," kenang pria yang pernah mengajar di Universitas Sriwijaya, Palembang tersebut. ...dst 8 ) Peneliti Tak Dilarang Pindah http://cetak.kompas.com/read/2010/08/31/03432165/peneliti..tak.dilarang.pindah Selasa, 31 Agustus 2010 | 03:43 WIB Jakarta, Kompas - Pemerintah tidak bisa melarang peneliti Indonesia untuk pindah atau berkiprah di luar Indonesia, termasuk di Malaysia. Kenyataan itu justru menjadi tantangan untuk menciptakan suasana penelitian yang kondusif sehingga peneliti betah mengabdi di Indonesia. "Kita harus mencari jawaban, kenapa para peneliti itu lebih tertarik meneliti di tempat lain? Mengapa mereka tidak tertantang tetap meneliti di Indonesia? Melarang itu bukan solusi. Justru harus ditemukan jawabannya sehingga bisa diambil solusi," kata Menteri Pendidikan Nasional Mohammad Nuh di Jakarta, Senin (30/8). Ia menanggapi banyaknya dosen dan peneliti Indonesia yang ditawari bekerja di sejumlah negara, terutama Malaysia. Nuh mengatakan, penelitian-penelitian yang berkembang di Indonesia sering bersifat jangka pendek. Selain itu, penelitian pun sering kali berganti-ganti tema sehingga kurang fokus dan tidak membuahkan hasil optimal. ...dst 9 ) Banyak Peneliti Indonesia Pindah Ke Malaysia ! http://edukasi.kompas.com/read/2010/08/28/10545716/Duh..Banyak.Peneliti.Pindah.ke.Malaysia. Sabtu, 28 Agustus 2010 | 10:54 WIB BANDUNG, KOMPAS.com — Banyak peneliti Indonesia dari berbagai keahlian pindah ke lembaga penelitian dan perguruan tinggi di Malaysia. Padahal, sebagian besar dari peneliti tersebut disekolahkan dengan biaya negara. Salah satu alasan kepindahan tersebut karena suasana riset di Tanah Air yang kurang kondusif. Sebagian besar riset, misalnya, hanya terhenti di penyelesaian laporan dan tidak ada tindak lanjut, seperti jalinan kerja sama dengan swasta untuk implementasi hasil penelitian. Selain itu, tingkat kesejahteraan peneliti juga relatif rendah. Hal itu terungkap dalam tanya jawab antara peneliti Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan), Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), serta Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) secara terpisah dengan Menteri Riset dan Teknologi Suharna Surapranata di Bandung, Jawa Barat, Jumat (27/8/2010). ...dst 10 ) Menristek: Penelitian Masih Tumpang Tindih dan Tak Fokus http://www.tempointeraktif.com/hg/pendidikan/2010/08/27/brk,20100827-274465,id.html Jum'at, 27 Agustus 2010 | 14:50 WIB TEMPO Interaktif, Bandung - Menteri Riset dan Teknologi Suhana Suryapranata menilai penelitian dari berbagai lembaga pemerintah masih tumpang tindih. Arah penelitian pun dianggap masih kurang fokus. "Ketika zamannya dulu sibuk (teknologi) nano, semua sibuk nano. Ada ketika bicara masalah gempa, begitu juga. Jadi seperti angin-anginan," katanya saat berkunjung ke kantor Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Bandung, Jumat (27/8). Suhana menyebut, lembaga riset seperti LIPI, Batan, serta Lapan, juga selalu berkomunikasi langsung dengan Menteri Keuangan serta Bappenas. Harusnya, kata Menristek, mereka juga berkonsolidasi dengan kementeriannya agar penelitian terfokus. "Misalnya masalah bibit padi, di LIPI dan Batan ada (risetnya). Dari tumpang tindih ini, (akibatnya) banyak hal-hal yang tidak tersentuh," ujarnya. Menristek berjanji akan mengkoordinir lembaga-lembaga riset pemerintah agar tumpang tindih penelitian tidak terjadi, apalagi hingga saling berebut dana penelitian. Sekretaris LIPI Rochadi Abdulhadi mengatakan, kurang sepakat dengan penilaian tumpang tindih yang diutarakan Menristek. "Tumpang tindih itu harus kita cermati betul. Misalnya kita sama-sama (meneliti) padi, tapi pendekatan Batan dan Lipi berbeda," ujarnya. Lipi memakai pendekatan bioteknologi, sedangkan Batan memakai nuklir. ...dst 11 ) ITS: Jangan Terjebak Gaji Malaysia! http://edukasi.kompas.com/read/2010/08/30/14181384/ITS:.Jangan.Terjebak.Gaji.Malaysia.. Senin, 30 Agustus 2010 | 14:18 WIB JAKARTA, KOMPAS.com — Rektor Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Priyo Suprobo, mengatakan, kebanyakan yang diincar oleh Malaysia adalah peneliti dan dosen. Sampai saat ini Malaysia masih kekurangan dosen. "ITS sampai sekarang masih melakukan pertukaran pelajar dengan Malaysia, komunikasi dengan dosen di Malaysia juga lancar," ujar Priyo kepada Kompas.com, Senin (30/8/2010) di Jakarta. Namun, kata Priyo, ITS sendiri tetap membatasi jumlah dosennya yang ingin mengajar di Malaysia. "Jangan terjebak oleh gaji yang tinggi di Malaysia. Meskipun bergaji tinggi, rata-rata dosen Indonesia tidak betah di Malaysia, mereka mengaku tetap nyaman tinggal di Indonesia," tambahnya. Secara terpisah, Rektor Institut Teknologi Bandung (ITB), Prof Akhmaloka, mengungkapkan, memang banyak alasan yang membuat Malaysia membutuhkan para peneliti dari Indonesia. Pertama, Malaysia memiliki dana dan fasilitas yang banyak, sementara dari segi sumber daya manusia (SDM) Malaysia sangat kekurangan sehingga membutuhkan orang-orang yang dapat menggunakan fasilitas tersebut. ...dst
12 ) Rumitnya Meneliti Kehidupan Peneliti
06 Apr 2010
Di luar negeri, profesi peneliti sangat dihargai. Bukan hanya dari segi pengakuan karya, namun juga dari sisi pendapatan, untuk yang senior, pendapatannya bisa mencapai 60 juta rupiah per bulan. Lalu, bagaimana dengan peneliti indonesia? Meski hasil kerja mereka berpengaruh pada kehidupan orang banyak, kehidupan para peneliti dan perekayasa di negeri ini jauh dari kesan glamor. Sebagian besar waktu peneliti bahkan tersita di laboratorium yang sesak dengan berbagai macam alat ukur. Terkadang, mereka menyepi di perpustakaan untuk memperkaya isi otak dengan berbagai ilmu pengetahuan. Mereka juga sering duduk berlama-lama di depan komputer. Entah itu untuk menulis laporan ilmiah secara sistematis sesuai kaidah dan metode ilmiah atau memantau perkembangan bidang ilmu yang sedang digelutinya lewat situs-situs ilmiah di jagat maya. Selain itu, mereka kerap memanfaatkan Internet untuk berkorespondensi dan berbagi data dengan kolega di dalam maupun luar negeri. Sela-sela kesibukannya membuktikan kebenaran dan ketidak-kebenaran asumsi di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek) mereka manfaatkan untuk berdiskusi dengan kolega atau datang ke sebuah seminar. Mereka juga memanfaatkan waktu luang untuk mentransfer ilmu kepada mahasiswa di sejumlah perguruan tinggi. ...dst 13 ) Suara Floor untuk Perbaikan Nasib Peneliti Indonesia di tahun 2009 http://www.ristek.go.id/makalah-menteri/index.php/2008/12/12/suara-floor-untuk-perbaikan-nasib-peneliti-indonesia/ … Coba anda bayangkan, jika anda sebagai peneliti yang sedang bekerja di suatu laboratorium harus “direcokin” dengan kebutuhan dasar hidup. Apalagi biaya pendidikan anak-anaknya semakin mahal, jangan heran kalau ada para peneliti terpaksa harus “menggadaikan Surat Keputusan (SK) Pengangkatan” untuk meminjam uang ke bank atau hidup dengan metode “buka dan tutup lubang” diberbagai tempat demi menyambung hidup. Mereka harus berkerja sampingan untuk menutupi kebutuhan hidup. Kadang mereka bekerja sesuai kepakarannya namun bersifat “swasta” atau diluar kepakarannya. Mereka hidup di dua alam diantara “keprofesionalisme profesi” atau “kebutuhan dasar hidup”. Jarang para profesional peneliti terlibat dari unsur korupsi atau plagiat karena telah mempunyai kode etik profesi. Mereka murni bekerja atas dasar keingintahuan dari suatu fenomena disekitar sehingga dapat menciptakan atau juga memberikan solusi pasti masalah-masalah di masyarakat. Maka sangat disayangkan kalau para kaum intelektual ini yang berpendidikan S1, S2, S3 atau post doctoral program harus berputar otak bagaimana memenuhi kebutuhan dasar hidup keluarga selain salary utama di kantornya. That’s the fact of life, my friends…….We must realize it >>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>> APLIKASI PENELITIAN Kemenristek Tanggung Biaya Riset http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/351542/ Sunday, 19 September 2010 JAKARTA(SINDO) – Kementerian Riset dan Teknologi (Kemenristek) akan menanggung seluruh biaya peneliti yang akan meneliti riset mengenai teknologi industri. Bahkan, kalangan industri yang memanfaatkan hasil penelitian ini juga akan mendapat insentif. Wakil Menteri Riset dan Teknologi (Wamenristek) Amin Subandrio mengatakan, pendanaan ini diperlukan mengingat minimnya penggunaan hasil riset industri yang dihasilkan peneliti dari perguruan tinggi. Bahkan, kalangan industri justru lebih membeli lisensi riset yang sudah jadi dari luar negeri…cu… Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi (Dikti) Kementerian Pendidikan Nasional (Kemendiknas) Joko Santoso mengatakan, penyaluran dana penelitian mulai tahun depan akan diubah. Sekitar 70% dana penelitian, ujarnya, akan diberikan untuk riset-riset unggulan di perguruan tinggi. Sedangkan sisanya dikompetisikan. …dst Peneliti dan Industri Kurang Komunikasi http://edukasi.kompas.com/read/2010/09/01/10531271/Peneliti.dan.Industri.Kurang.Komunikasi Rabu, 1 September 2010 | 10:53 WIB JAKARTA, KOMPAS.com - Kebijakan pemerintah seharusnya mendorong semua pengusaha untuk mau memanfaatkan kemampuan para peneliti dalam negeri. Langkah ini akan menggerakkan roda perekonomian sekaligus mengembangkan dunia penelitian dan pendidikan. Wakil Rektor Bidang Riset dan Inovasi Institut Teknologi Bandung (ITB) Wawan Gunawan A Kadir mengatakan, kecilnya jumlah penelitian yang dimanfaatkan industri merupakan akibat lamanya waktu yang diperlukan bagi hasil riset perguruan tinggi untuk dapat diterapkan di dunia industri, yaitu antara 5 dan 25 tahun. Lamanya waktu dan besarnya biaya riset membuat industri memilih membeli lisensi produk asing untuk diproduksi di Indonesia. Komunikasi antara peneliti dan pelaku industri juga dinilai Wawan sangat kurang. Para dosen harus aktif mendekati industri agar mau memanfaatkan kemampuan atau menggunakan hasil riset mereka. Sedangkan permintaan riset dari industri juga lebih banyak memanfaatkan hubungan personal mereka dengan dosen-dosen tertentu saja yang telah mereka kenal. Selain itu, kecilnya rasio hasil riset yang dimanfaatkan industri dengan jumlah perguruan tinggi disebabkan riset-riset yang termanfaatkan masih didominasi oleh hasil penelitian lima perguruan tinggi besar. Perguruan tinggi itu adalah ITB, Universitas Indonesia, Institut Pertanian Bogor, Universitas Gadjah Mada, dan Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya. ...dst Insentif Khusus bagi Industri Pengguna Riset http://cetak.kompas.com/read/2010/09/01/03091642/insentif.khusus.bagi.industri.pengguna.riset Rabu, 1 September 2010 | 03:09 WIB Jakarta, Kompas - Untuk memacu pemanfaatan hasil-hasil penelitian perguruan tinggi ataupun lembaga penelitian, pemerintah perlu memberikan insentif khusus bagi industri yang menggunakan hasil riset dalam negeri. Insentif bagi industri itu akan turut mendorong berkembangnya penelitian dan penyediaan dana riset bagi para peneliti. Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia Anton J Supit di Jakarta, Selasa (31/8), mengatakan, tidak sinkronnya hubungan antara hasil penelitian dan industri sudah berlangsung sejak lama. Kondisi itu salah satunya terlihat dari tidak termanfaatkannya temuan benih-benih unggulan berbagai jenis tanaman, seperti padi atau jagung, yang dihasilkan sejumlah lembaga penelitian. ...dst Penelitian Harus Bersifat Jangka Panjang http://edukasi.kompas.com/read/2010/08/31/11144563/Penelitian.Harus.Bersifat.Jangka.Panjang Selasa, 31 Agustus 2010 | 11:14 WIB JAKARTA, KOMPAS.com - Menteri Pendidikan Nasional Mohammad Nuh menegaskan, penelitian di Indonesia tidak boleh bersifat jangka pendek yang hanya memaparkan satu topik lalu selesai. Penelitian yang harus difokuskan adalah penelitian yang bersifat jangka panjang. Demikian Mendiknas saat menghadiri acara buka puasa bersama media, Senin (30/8/2010), di Jakarta. "Pemerintah saat ini telah merancang dua program untuk penelitian," ujar Nuh. Pertama, program penelitian untuk menjawab subsitusi impor. Hal ini mengingat masih banyak produk-produk Indonesia yang diimpor dari luar sehingga harus ada penelitiannya dan bisa dimanfaatkan hasilnya. Kedua, program penelitian diarahkan untuk mengantisipasi perkembangan ilmu di masa depan seperti segala yang terkait dengan teknologi, yang sampai saat ini kurang dimanfaatkan secara maksimal. Adapun dana penelitian untuk tahun ini akan difokuskan untuk kedua program tersebut. ...dst

Related posts

*

*

Top